Kejujuran Membawa berkat

2 11 2009


Kisah yang menarik dimana tetap mempertahankan prinsipbest

menjadi orang baik dan harapan. David kuliah di fakultas

perdagangan Arlington USA. Kehidupan kampusnya,

terutama mengandalkan kiriman dana bulanan secukupnya

dari orang tuanya. Entah bagaimana, sudah 2 bulan ini

rumah tidak mengirimi uang ke David lagi.

Di kantong David hanya tersisa 1 keping dollar saja.

David dengan perut keroncongan berjalan ke bilik telepon

umum, memasukkan seluruh dananya, yaitu satu keping

uang logam itu, ke dalam telepon.

“Halo, apa kabar?” telpon telah tersambung, ibu David

yang berada ribuan km jauhnya berbicara.

David dengan nada agak terisak berkata:

“Mama, saya tidak punya uang lagi, sekarang lagi bingung

karena kelaparan.”

Ibu David berkata: “Anakku tersayang, mama tahu.”

“Sudah tahu, kenapa masih tidak mengirim uang?”

David baru saja hendak melontarkan dengan penuh

kekesalan pertanyaan tersebut kepada sang ibu,

mendadak merasakan perkataan ibunya mengandung

sebuah kesedihan yang mendalam. Firasat David

mengatakan ada yang tidak beres, ia cepat-cepat bertanya,

“Mama, apa yang telah terjadi di rumah?”

Ibu David berkata,

“Anakku, papamu terkena penyakit berat, sudah lima

bulan ini, tidak saja telah meludeskan seluruh tabungan,

bahkan karena sakit telah kehilangan tempat kerjanya,

sumber penghasilan satu-satunya di rumah telah terputus.

Oleh karena itu, sudah 2 bulan ini tidak mengirimimu uang

lagi, Mama sebenarnya tidak ingin mengatakannya

kepadamu, tetapi kamu sudah dewasa, sudah saatnya

mencari nafkah sendiri.”

Ibu David berbicara sampai disitu, tiba-tiba menangis

tersedu sedan. Di ujung telepon lainnya, air mata David

juga “tes”, “tes” tak hentinya menetes, dan ia berpikir

Kelihatannya saya harus drop out dan pulang kampung.

David berkata kepada ibunya,

“Mama, jangan bersedih, saya sekarang juga akan mencari

pekerjaan, pasti akan menghidupi kalian.”

Kenyataan yang pahit telah membuat David terpukul

hingga pusing tujuh keliling. Masih 1 bulan lagi,

semester kali ini akan selesai, jikalau memiliki uang,

barang 8 atau 10 dollar saja, maka David mampu bertahan

hingga liburan tiba, kemudian menggunakan 2 bulan masa

liburan untuk bekerja menghasilkan uang. Akan tetapi

sekarang 1 sen pun tak punya, mau tak mau harus drop out.

Pada detik ketika David mengatakan “Sampai jumpa”

kepada ibunya dan meletakkan gagang telpon itu,

sungguh luar biasa menyakitkan, karena prestasi kuliahnya

sangat bagus, selain itu ia juga menyukai kehidupan di

kampus fakultas perdagangan Arlington tersebut.

Sesudah meletakkan gagang telpon, pesawat telpon umum

tersebut mengeluarkan bunyi gaduh, David dengan

terkejut dan terbelalak menyaksikan banyak keping dollar

menggerojok keluar dari alat itu.

David berjingkrak kegirangan, segera menjulurkan

tangannya menerima uang-uang tersebut.

Sekarang, terhadap uang-uang itu, bagaimana

menyikapinya? Hati David masih merasa sangsi,

diambil untuk diri sendiri, 100% boleh,

pertama: karena tidak ada yang tahu,

ke dua: dirinya sendiri betul-betul sedang membutuhkan.

Namun setelah bolak-balik dipertimbangkan, David merasa

tidak patut memilikinya. Setelah melalui sebuah

pertarungan konflik batin yang hebat, David memasukkan

salah satu keping dolar itu ke dalam telepon dan menghubungi bagian

pelayanan umum perusahaan telepon.

Mendengar penuturan David, nona petugas pelayanan

umum berkata, “Uang itu milik perusahaan telepon,

maka itu harus segera dikembalikan (ke dalam mesin

telepon).”

Setelah menutup telepon, David hendak memasukkan

kembali keping logam uang itu, tetapi sekali demi sekali

uang dimasukkan, pesawat otomat itu terus menerus

memuntahkannya kembali. Sekali lagi David menelepon,

dan petugas pelayanan umum yang berkata,

“Saya juga tak tahu harus bagaimana, sebaiknya saya

sekarang minta petunjuk atasan.”

Nada bicara David yang sendirian dan tiada yang menolong

memancarkan getaran kesepian dan kuyu, nona petugas

pelayanan umum sangat dapat merasakannya,

menilik perkataan dari ujung telepon dia merasakan

seorang asing yang bermoral baik sedang perlu dibantu.

Tak lama kemudian, nona petugas pelayanan umum

menelepon ulang pesawat otomat yang sedang bermasalah

itu. Dia berkata kepada David,

“Saya telah memperoleh ijin dari atasan yang berkata

uang tersebut untuk anda, karena perusahaan kami saat

ini tidak mempunyai cukup tenaga, tak ingin demi

beberapa dollar khusus mengirim petugas ke sana.”

“Hore!”, David meloncat saking gembiranya.

Sekarang, uang logam itu secara sah menjadi miliknya.

David membungkukkan badannya dan dengan seksama

nenghitungnya, total berjumlah 9 dollar 50 sen.

Uang sejumlah ini cukup buat David bertahan hingga

bekerja memperoleh upah pertamanya pada saat liburan

nanti. Dalam perjalanan ke kampus, David tersenyum

terus sepanjang jalan. Iamemutuskan membeli makanan

dengan menggunakan uang itu lantas mencari pekerjaan.

Dalam sekejap liburan telah tiba, David telah memperoleh

pekerjaan sebagai pengelola gudang supermarket.

Pada hari tersebut, David menjumpai boss perusahaan

supermarket, menceritakan kepadanya tentang kejadian di

telepon umum dan keinginannya untuk mencari pekerjaan.

Si boss supermarket memberitahu David boleh datang

bekerja setiap saat, tidak hanya pada liburan saja,

sewaktu kuliah dan tidak terlalu sibuk juga boleh

bergabung, karena boss supermarket merasa David adalah

orang yang tulus dan jujur, terutama adalah orang yang

seksama, membenahi gudang mutlak bisa dipercaya.

David bekerja dengan sangat giat, boss sangat

mengapresiasinya dan juga merasa kasihan.

Si boss memberinya upah dobel.

Sesudah menerima gaji, David mengirimkan keseluruhan

gajinya kepada sang ibu, karena pada saat itu David sudah

mendapatkan info bahwa ia berhasil memperoleh bea

siswa untuk satu semester berikutnya. Sesudah 1 bulan,

uang dikirim balik ke David. Sang ibu menulis di dalam suratnya:

“Penyakit ayahmu sudah agak sembuh, saya juga telah

mendapatkan pekerjaan, bisa mempertahankan hidup.

Kamu harus belajar dengan baik, jangan sampai kelaparan.”

Sesudah membaca surat itu, David menangis lagi.

David tahu, meski orang tuanya menahan lapar, juga tidak

bakal meminta uang kepada David yang sedang perlu

dibantu. Setiap kali memikirkan hal ini, David berlinang

bersimbah air mata, sulit menenangkan gejolak hatinya.

Setahun kemudian, David dengan lancar menyelesaikan kuliahnya.

Setelah lulus, David membuka sebuah

perusahaan, tahun pertama, David sudah mengantongi

laba US $ 100.000. Ia senantiasa tak bisa melupakan

kejadian di telepon umum. Ia menulis surat kepada

perusahaan telepon tersebut:

“Hal yang tak bisa saya lupakan untuk selamanya ialah,

perusahaan anda secara tak terduga telah membantu dana

US $ 9,50 kepada saya. Perbuatan amal ini,

telah membuat saya batal menjadi pemuda drop out dan

menuju kondisi miskin, bersamaan itu juga telah memberi

saya energi tak terhingga, mendorong saya setiap saat

tidak melupakan untuk berjuang. Kini saya mempunyai

uang, saya ingin menyumbang balik sebanyak US $ 10.000

kepada perusahaan anda, sebagai rasa terima kasih saya.”

Boss perusahaan telpon bernama Bill membalasnya dengan

surat yang dipenuhi antusiasme:

“Selamat atas kesuksesan kuliah anda dan usaha yang

telah berkembang. Kami kira, uang tersebut adalah uang

yang paling patut kami keluarkan. Ini bukannya merujuk

pada $9,50 yang dikembalikan dengan $10.000,

melainkan uang itu telah membuat seseorang memahami

sebuah petuah tentang prinsip tertinggi kehidupan.”

So, di saat-saat paling sulit,

Pertama : Jangan melupakan harapan sudah ada di depan mata.

Kedua: Jangan lupa menjaga moralitas.

Setelah 20 tahun telah berlalu, bagaimana dengan David?

Di kota Chicago, Amerika, terdapat sebuah gedung

mewah, yang tampak luarnya menyerupai sebuah bilik

telepon umum, itu adalah gedung perusahaan ADDC.

Pendiri perusahaan ADDC, Presiden Direkturnya ialah

David, selain itu juga David adalah salah satu penyumbang


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.